Rabu, 30 September 2015

Softskill Bahasa Indonesia



Dampak ekonomi kabut asap 'lebih dari Rp20 triliun'

 

Masalah kabut asap sebenarnya tidak hanya terjadi pada tahun ini, melainkan sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Namun pada tahun ini menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kerugian yang dialami semakin besar. Kabut asap yang sedang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia terjadi karena kebakaran hutan yang semakin lama semakin meluas sehingga memilki banyak dampak buruk. Selain berdampak bagi kesehatan masyarakatnya, kabut asap juga berdampak bagi perkembangan ekonomi umumnya di Indonesia dan secara khusus di kota itu sendiri.
Pada awalnya, kabut asap ini hanya berdampak kecil bagi masyarakat di kota tersebut seperti misalnya masyarakat malas berangkat bekerja karena jalanan tertutup asap, hilangnya lahan pekerjaan karena hutannya terbakar, dan lainnya. Semakin luas hutan yang terbakar, maka semakin banyak kabut asap yang mengganggu aktifitas masyarakat sehingga memperbesar kerugian yang dialami. Saat ini menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) kerugian akibat kabut asap itu mencapai 20 triliun rupiah, hal itu terjadi karena berkurangnya pemasukan di bidang maskapai penerbangan, perhotelan, industri makanan, dan lain-lain.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan angka itu didasarkan pada data tahun lalu.
"Ya pasti. Kalau melihat skalanya lebih luas, pasti lebih tinggi (kerugiannya). Pada 2014 terkonsentrasi terutama di Riau, sekarang lebih meluas penyebaran asapnya di Sumatera dan Kalimantan. Saya lagi menghitung ini (kerugiannya)," kata Sutopo. "Parah-parahnya (kabut asap) mulai 1 September. Hitungan saya lebih dari Rp20 triliun dibanding 2014," ujar Sutopo lagi.
Kerugian yang paling besar terjadi pada maskapai penerbangan karena kabut asap sudah pasti sangat mengganggu penerbangan pesawat yang melewati daerah berkabut asap tersebut. PT Angkasa Pura II sebagai pengelola beberapa bandara yang terkena dampak kabut asap juga mengakui, dalam sepekan terakhir, mereka kehilangan pendapatan, terutama dari Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara atau biasa dikenal dengan passenger service charge (PSC). Belum lagi, jika bandara sepi penumpang, maka bisnis-bisnis yang menyewa ruang dalam bandara akan kehilangan pemasukan.
Selain itu, jam terbang maskapai penerbangan akan terbengkalai karena harus ada penerbangan yang di cancel atau sebagainya. Lalu, berkurang kepercayaan masyarakat terhadap maskapai penerbangan karena pasti masyarakat menyalahkan maskapai penerbangan yang menunda perjalanan atau sebagainya. Dari masalah pada maskapai penerbangan pasti mempengaruhi minat wisatawan untuk bepergian sehingga bermasalah pula pada bidang perhotelan, industri makanan, dan lain – lain.
Selain di Indonesia, masalah kabut asap ini berdampak pula bagi Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura walaupun kerugiannya tidak sebesar yang dialami Indonesia. Contohnya pemerintah Singapura menghimbau para masyarakatnya untuk tidak keluar rumah, lalu pendidikan disana juga terhambat karena sekolah diliburkan, dan berpengaruh juga terhadap wisatawan yang sekarang enggan ke Singapura atau Malaysia karena penerbangan juga terhalang kabut asap.
Untuk mengurangi kerugiannya, saat ini diperlukan langkah untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan tersebut agar kabut asap yang terjadi dapat berkurang. Sementara untuk tahun ini, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Tri Budiharto, menyebutkan pemerintah sudah mengalokasikan dana Rp385 miliar untuk penanggulangan bencana asap. Dana itu akan dibagikan ke enam provinsi yang terjadi kebakaran termasuk Riau.
Dana tersebut menurutnya diperuntukan untuk menyewa helikopter dalam melakukan pemadaman melalui udara serta menyewa pesawat untuk melakukan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca). Pesawat itu menaburkan garam agar tercipta awan sehingga hujan bisa turun. "Sebagian besar dananya memang untuk menyewa heli dan pesawat," kata Tri di Pekanbaru.
Masyarakat berharap dana tersebut digunakan sebaik-baiknya untuk penanggulangan kabut asap secara transparan agar tidak digunakan oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Setelah kabut asap berkurang maka kegiatan ekonomi dapat berlangsung seperti biasa dan perlahan mengurangi kerugian yang terjadi.


Sumber :
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia